BATAM,(LIPUTAN INDONESIA.ID) – Boby chandra,salah satu peternak burung puyuh asal kota Batam, yang berhasil menerapkan ekonomi kerakyatan.Burung puyuh merupakan jenis unggas yang tidak bisa terbang.
Walaupun ukurannya kecil dibandingkan jenis unggas lain, namun bisa menghasilkan peluang uang yang besar dan mengiurkan.
Lanjutnya,besarnya kebutuhan pasar membuat usaha peternakan puyuh petelur sangat potensial.Dan sangat menguntungkan dari segi ekonomi, mengingat telur puyuh memiliki harga jual yang cukup tinggi dan mengiurkan.
Sebab hampir seluruh bagian puyuh bisa mendatangkan omset, mulai dari daging hingga kotorannya.
“Beternak burung puyuh itu gampang dan mudah merawat nya ,Ini saya ngurus sendiri”. ujar Boby pada media Liputan Indonesia.id saat di temui di kandang peternakannya. Jumat,(11/2/2022)
Masih kata Roby, kalau burung tidak bertelur lagi, puyuh bisa dijual dagingnya kepada ke restoran atau rumah makan yang menyajikan goreng puyuh.
“Yang jelas bisa di jual semua dan laku mulai dari telur, daging dan kotoran nya.
Kalau kotoran dikeringkan bisa laku Rp 20-30 ribu untuk pupuk organik,dan daging juga laku untuk rumah makan,telurnya juga laku ke pedagang di pasar dan warung”.ungkapnya
Masih katanya,seekor puyuh usia muda dapat bisa menghasilkan 1 telur setiap hari dan ini berlangsung selama 1,5 tahun.
Untuk omzet bisa di hitung secara kasar,karena tiap hari bertelur dan mudah nyari uangnya.
Untuk satu hari saja bisa dapat 80.000, belum lagi dari telur dan penjualan pakan,kotoran untuk pupuk,jadi per bulan di atas Rp 5 juta,ujarnya
Bagi peternak pemula yang ingin memulai usaha ternak puyuh petelur dan daging.Harus memperhatikan asupan nutrisi ini menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan, baik melalui pemberian pakan maupun vitamin.ungkap Roby.
(Abdul Azis)







